• Home
  • About
  • Mine
    • Life
    • Thoughts
    • Words
    • Beauty Stuff
  • Traveling
  • Foodie
  • Art & Snap
  • Portfolio
Powered by Blogger.
Linkedin instagram twitter facebook

Pages

Keep silent, please. Let's enjoy some things



Next, kita bahas persiapan lebih detail dengan konsep-konsep acaranya :

  1. Mencari venue baru, hal pertama yang sangat perlu dilakukan adalah menentukan venue baru di daerah Bekasi. targetnya adalah venue outdoor yang bisa memberikan area luas sehingga social distancing bisa diterapkan. Alhamdulillah, orang tua gercep banget untuk survei-survei ke lapangan dan dalam waktu sekitar 2 minggu, venue baru sudah didapat. Fun fact, venue yang dipilih orang tua adalah venue yang aku inginin beberapa tahun lalu saat masih meng-khayal nikah, tapi saat bener-bener mempersiapkan pernikahan, gak pernah sama sekali aku sebut-sebut karena lokasinya di Bekasi sedangkan ayah minta untuk acara resepsi di Jakarta, selain itu harganya yang relatif tinggi (menurutku) jadi alasan untuk mengurungkan nikah di venue tersebut. qadarullah ya... karena kondisi pandemi akhirnya berjodoh dengan venue galea belangi.
  2. Update list undangan, terkait undangan, kami harus meng-cut jumlah rencana awal sekitar 1100 pax menjadi maksimal 500 pax (50% kapasitas venue). aku set maksimal 450 pax  undangan dengan perkiraan kehadiran 80%. Konsep acara dibagi menjadi 2 sesi, dimana tiap sesi hanya sekitar 200 orang pada kapasitas outdoor 800 - 1000 orang. Realisasi saat acara, total tamu yang hadir pada 2 sesi ada sekitar 380 orang.
  3. Proses undangan dan souvenir, bad news, karena kontrak undangan dan souvenir sudah di sepakati di bulan Maret sehingga untuk jumlah undangan hanya bisa dikurangi menjadi 400 sedangkan sebenarnya undangan yang dibutuhkan hanya 200. Di undangan tertera dengan highlight pembagian sesi acara dan arahan untuk menggunakan masker dan berjaga jarak. Souvenir pun sama, udah terlanjur pesan 600 pcs padahal hanya butuh 300 pcs (include spare). selesai acara, masih ada 2 kardus yang full souvenir.
  4. Pembahasan kontrak baru dan konsep acara, kontrak yang dibahas ini terkait dengan jumlah catering, menu menunya, dekorasi, sanggar beserta attirenya, sedangkan untuk konsep acara adalah hal utama yang bener2 jadi pikiran, beberapa hal yang aku rencanakan dan sampaikan ke vendor:
    • Desinfektan, dilakukan penyemprotan desinfektan pada venue baik sebelum acara dan sesudah acara.
    • Pembagian sesi acara, para undangan dibagi menjadi 2 sesi yang diinfokan pada undangan yang diberikan, sesi pertama adalah saat akad nikah yaitu sekitar pukul 4.00 - 6.00 pm, setelah proses akad nikah, para undangan bisa langsung menyantap hidangan layaknya hidangan saat resepsi. Kemudian saat magrib para undangan sesi pertama dipersilakan pulang dan pada pukul 6.30 - 08.00 pm acara diperuntukkan untuk undangan sesi kedua. Untuk pengantin beserta orang tua tetap ganti baju namun untuk hidangan bisa tetap disantap oleh para tamu walaupun pengantin dan orang tuanya belum siap di pelaminan. To be honest, dengan pembagian sesi seperti ini waktu untuk take foto dan video dokumentasi agak terganggu, so mungkin lebih baik kalau waktu per-sesi lebih panjang.
    • Setting jumlah tamu saat acara berlangsung, Kapasitas venue sebanyak 800-1000 orang, diset agar hanya maksimal 200 orang di saat yang bersamaan.
    • Rundown acara, Selain waktu pelaksanaan yang diatur berbeda dari acara pernikahan umumnya, tentu untuk menjaga protokol kesehatan ada beberapa konsep dan rundown acara yang dihilangkan. Umumnya para tamu bersalaman dengan pengantin dan kedua pasang orang tuanya namun di acara ini, tidak ada jabat tangan. Selain itu kami tidak mengadakan acara seru-seruan seperti peleparan bouquet bunga atau acara tari-tarian yang biasa dilakukan mendekati penghujung acara, atau pun tidak ada keluarga atau kerabat yang menyumbang lagu. Semua hal tersebut untuk menghindari adanya kerumunan yang tidak berjarak serta kontak seseorang melalui benda yang memungkinkan terjadinya transfer virus.
    • Pengecekan suhu, di venue difasilitasi 3 titik pengecekan suhu, 2 titik disediakan pihak venue dan 1 titik dibantu oleh WO. Titik pertama di gerbang masuk awal menuju parkiran, lalu di pintu antara area parkir dengan area acara dan saat memasuki area daftar penerimaan tamu. Apabila ada tamu diatas suhu 37o C, maka akan ditempatkan di bangunan terpisah dari lokasi acara dan dicek kembali tiap 5 menit sebanyak maksimal 3 kali, apabila suhunya tidak turun maka tamu dipersilakan untuk pulang dan beristirahat.
    • Masker/faceshield, semua diwajibkan memakai masker kecuali saat menyantap makanan.
    • Cuci tangan, disediakan westafel dan tamu diarahkan untuk mencuci tangan saat akan memasuki area acara, dalam area acara juga terdapat westafel dan banyak handsanitizer yang tersebar di meja-meja serta anggota WO selalu ready untuk dimintakan handsanitizer oleh para tamu yang membutuhkan.
    • Pengisian buku tamu, penulisan buku tamu dilakukan oleh penerima tamu sehingga tidak ada pulpen yang berpindah tangan.
    • Layout, memanfaatkan area yang sangat luas, penempatan gubukan makanan disetting berjauhan. Perlu usaha berjalan cukup jarak untuk menyantap makanan tapi hal ini memang sengaja diatur untuk menghindari kerumunan antrian. Kemudian aku juga menambah jumlah kursi dan minta kepada vendor untuk dapat ditempatkan menyebar dan berjarak. Dari jumlah tamu 200 orang aku sediakan sekitar 180 kursi yang harusnya tersebar, tujuannya agar tamu bisa menyantap makan dan minum sambil duduk dan mengkondisikan lokasi para tamu. Selain itu juga terdapat sign arahan untuk membantu memahami protokol kesehatan yang diterapkan saat acara.
    • Proses pelayanan makanan dan minuman, makan di gubug dan yang biasanya prasmana serta area VIP semuanya dilayani oleh waiters, tamu tinggal menyodorkan piring saja. Kemudian untuk penyediaan jus di tempatkan dalam botol, buah-buahan di wadah 1 porsi dan air putih menggunakan air mineral gelas sehingga hanya diperuntukan memang untuk 1 orang dan selesai makan/minum dapat langsung dibuang.
Yups, kira-kira itu langkah yang aku lakukan untuk mengadakan acara resepsi kecil-kecilan dalam masa pandemi ini. oiya, selain itu juga selalu doa semohon-mohonnya, mohon agar acaranya aman dan lancar, diberikan kesehatan baik pemilik hajat atau para undangan karena sejujurnya sangat degdegan, mungkin dibanding degdegan mau nikah, lebih degdegan acaranya aman atau gak, dedegannya sampe hari H+15 hari loh.

Untuk acara aku ini, Syukur Alhamdulillah aman, selain dengan konsep acara yang diusahakan bisa menerapkan protokol kesehatan (walau sayangnya gak semua konsep yang aku minta benar 100 % dijalankan dengan baik), mungkin karena semua orang yang hadir dalam acara adalah orang-orang yang alhamdulillah sehat, tapi sebenernya menurutku ini bukan hal yang harus dicontoh loh. Kalau memang bisa (semua pihak menyetujui) untuk tidak mengadakan acara yang memiliki risiko selama pandemi ini, lebih baik untuk ditahan-tahan aja, karena sebenernya yang penting memang akadnya dan diumumkannya terkait pernikahan tersebut, sebenernya untuk mengumumkan bisa dengan banyak cara, misal kirim besek ke tetangga-tetangga dan manfaatin media sosial. :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hai hai...
Lama tak bersua di blog... kali ini aku mau menuliskan pengalaman nikah di masa “new normal pandemi covid-19" tahun 2020. Tulisan ini sebagai catatan buat aku untuk menolak lupa manis-asam-asin mempersiapakan pernikahan atau kali aja bisa untuk sharing ke siapa pun yang lagi iseng mampir baca blog hihiii...

Pernikahan (akad & resepsi) yang merupakan hal yang diimpikan sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi salah satu hal yang sangat terdampak oleh kebijakan pemutusan penyebaran rantai covid-19. Banyaaak, sangat banyak pasangan calpeng yang menunda acara untuk bisa mentaati kebijakan tersebut, ya kaaan ?

Well, salah satunya aku
rencana awal melangsungkan pernikahan di bulan Syawal yang saat itu jatuh di Juni 2020 akhirnya diundur. Persiapan udah dimulai sejak Januari 2020 dan target selesai Maret 2020 dengan tujuan bisa menjalani Ramadhan dengan tenang dan damai, eh eh... ternyata di awal Maret 2020 mulai bermunculan kabar covid-19 di Indonesia dan dampak-dampaknya sehingga aku, mas calsu dan keluarga memutuskan untuk menunda acara ke Agustus 2020 dengan perkiraan pandemi covid-19 selesai Mei 2020.

“kenapa akad-nya ditunda ? akad dulu aja yang penting sah"

Ya ya yaaa...
“akad dulu aja, itu sesuatu yang sebenernya aku inginin, tapi sayangnya kondisi saat itu masih dalam darurat covid dan PSBB,  calon posisinya kerja di Jawa Tengah, kondisi keluarga calon yang sudah sepuh-sepuh, dan keinginan orang tua menjadi faktor-faktor kenapa gak melaksanakan akad dulu aja. Pernikahan itu suatu acara yang gak cuma calpengnya aja yang ngurus dan punya keinginan, keluarga juga jadi faktor yang perlu dipertimbangkan, ya kan... ya kan ?”

Berjalannya waktu hingga di awal Juni 2020, memasuki masa New Normal walau pandemi covid-19 belum terlihat signifikan meredanya, PSBB jakarta masih diperpanjang diperpanjang dan diperpanjang berkali-kali, so... dengan segala kekhawatiran tidak bisa melangsungkan acara di agustus 2020, kami mencari tanggal lainnya yang available di vendor venue kami. Januari 2021 adalah waktu terdekat yang available di venue, sebelum itu full booked setelah itu pun sudah full booked. Segitu banyaknya yang mau nikah euuuy.

Alhamdulillah..., vendor-vendor yang kami ajak bekerja sama sangat baik dan mau menerima re-schedule acara, kita booked 2 tanggal baru yang sifatnya flexible mengikuti kondisi. Walau ga semua vendor masih available, MUA yang sudah aku booked untuk acara Juni sudah full booked di Agustus 2020 so aku harus cari-cari MUA lagi.

Tiada hari tanpa doa dan mencari update perkembangan covid-19, hingga akhir juni... rasanya kondisi tak kunjung membaik, rasa-rasanya rencana pernikahan (akad & resepsi) di Agustus 2020 tak bisa direalisasikan. Huft huft huft, hati rasanya gak ingin tunda-tunda lagiii.
Dalam agama, pernikahan itu salah satu hal yang perlu disegerakan, bukan bermakna buru-buru loh ya, tapi kalau sudah memenuhi syarat dan sudah ada calonnya yang Insha Allah Sholeh/Sholehah, ya segerakan ! ðŸ˜Š

Akhirnya aku ngajak diskusi keluarga dan mas calsu, menyampaikan saran untuk bisa dilaksanakan akad dulu di agustus 2020. Mas calsu dan keluarganya setuju-setuju aja, namun keluarga ku masih punya pertimbangan-pertimbangan lain. Selama beberapa hari hal ini jadi diskusi dengan beberapa opsi yang semuanya sempat menjadi pilihan, LOL.
  1. Akad dulu resepsi menyusul, dengan menyampaikan pertimbangan-pertimbangan yang logis, opsi ini sempet disetujui bersama secara tentative, melihat kondisi di bulan Juli, tapi setelah disetujui, aku malah berpikir ulang lagi, seakan gak ingin ribet ngadain resepsi yang entah kapan bisa diadain dan kondisi rencana setelah nikah akan dampingin suami kerja sesuai dengan penempatannya yang sampai saat itu masih belum jelas setelah jogjakarta akan dipindah kemana.
  2. Akad aja tanpa resepsi, well, karena merasa ada yang mengganjal di opsi 1, aku mencoba memberikan saran baru dengan segala pertimbangan yang terlintas. Intinya untuk menghindari keribetan, aku mengusulkan untuk akad saja tanpa adanya resepsi, ketika orang tuaku setuju lalu aku coba diskusilah dengan mas calsu, dan ternyata dari calsu dan keluarganya juga tidak keberatan. So, ketemu satu suara, akan ada akad nikah di agustus tanpa harus mikir acara resepsi.
  3. Akad dan resepsi menerapkan protokol kesehatan, selang beberapa hari setelah opsi 2 diputuskan, tiba-tiba orang tuaku ngajak diskusi, intinya setelah mendapat informasi bahwa di Bekasi sudah diizinkan mengadakan resepsi dengan protokol kesehatan dan diskusi dengan pihak vendor yang menyanggupi protokol tersebut, orang tuaku memutuskan untuk memilih opsi ketiga. Perasaan tiba2 kesal, opsi 2 sudah diputuskan bersama, opsi yang menurutku sangat simple dan aman, dan kondisi keluarga besan sudah setuju, tiba2 harus dibahas ulang lagi. Saat diskusi lagi dengan calsu dan keluarganya, mereka tidak keberatan untuk opsi 3, well, keluarga besan sangat tidak menuntut, ngikuuut saja dan percaya. Hamdallah yaaa.
Orang tuaku berinisiatif untuk aktif berdiskusi dengan vendor terkait peraturan protokol tersebut, mereka menyanggupi dan memberikan informasi bahwa perhimpunan para vendor pernikahan telah merumuskan protokol-protokol untuk diterapkan dalam resepsi di masa new-normal dan protokol tersebut didiskusikan juga dengan pihak pemerintah daerah bekasi.

Dengan kondisi seperti itu, aku yang harus mengalah. Melihat keinginan orang tua yang sangat kuat dan semangat mereka untuk bisa merealisasikan opsi ke 3 serta update peraturan Pemkot Bekasi.

Persiapan pun dimulai untuk merealisasikan opsi ketiga :
  1. Mencari venue baru (karena venue awal di jakarta dan harus dipindah ke bekasi)
  2. Update list undangan (tentu perlu dilakukan pengurangan)
  3. Pembahasan kontrak baru dan konsep acara
  4. Proses undangan dan souvenir
Semua persiapan di atas harus selesai dalam waktu sekitar 1 bulan. Riweh ? ya lumayan.. tapi Alhamdulillah sangat terbantu oleh orang tua yang semangat untuk adanya acara tersebut.

To Be Continued



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

Virginia Listyani | Since 1994 | Engineer X Designer | Random | Indonesian |

Follow Me

  • LinkedIn
  • @virginialisty
  • @vrg.niaa
  • Twitter
  • Facebook
  • Youtube

Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  Mar (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  Feb (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  Aug (5)
    • ►  Sept (1)
  • ►  2017 (7)
    • ►  Mar (7)
  • ►  2018 (1)
    • ►  Apr (1)
  • ▼  2020 (2)
    • ▼  Sept (2)
      • Pernikahan di Era New Normal Pandemi Covid19 - Part 1
      • Pernikahan di Era New Normal Pandemi Covid19 - Part 2
  • ►  2021 (2)
    • ►  Mar (1)
    • ►  May (1)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates